Rabu, 12 Maret 2014

Kebudayaan Sky Burial dari Negara Tibet

Tibet ialah sebuah kawasan penara di Asia Tengah dan petempatan asli bagi orang Tibet. Dengan ketinggian purata sebanyak 4,900 meter (16,000 kaki), Tibet merupakan rantau yang tertinggi di Bumi dan sering bergelar "Bumbung Dunia".
Bagi masyarakat tibet yang beragama buddha, tanah tempat tinggal mereka terletak di atas gunung di mana tidak ada tanah lembut. Hampir semuanya diliputi batu atau salji/air batu.Oleh kerana tidak ada tanah perkuburan disebabkan keadaan geografi , mereka memberi mayat untuk dimakan oleh burung.
Ritual pemakaman sky burial  yang walau tidak banyak tetapi masih tetap ada sampai sekarang. Adalah sebuah sekte dari agama di Tibet  terutama yang  masih percaya akan reinkarnasi, masih melakukan ritual pemakaman sky burial.  Metode penguburan mayat ini tidak berlaku untuk sembarang mayat. Ritual ini tidak untuk orang yang pada waktu menjadi almarhum/mah belum berusia 18 tahun, atau bagi wanita hamil yang meninggal atau orang-orang yang meninggal karena penyakit menular dan berbahaya.
Pada dasarnya, selain dikubur  layaknya di belahan bumi manapun, di Tibet khususnya, masih ada tiga jenis pemakaman, yaitu : dipersembahkan kepada laut (water burial,  yaitu metode penguburan dimana mayat di berikan kepada ikan-ikan untuk jadi santapan sang ikan di laut), yang kedua adalah : dikremasi dan  yang terakhir adalah sky burial ini, yaitu metode penguburan mayat dimana tubuh mayat dipersembahkan kepada vultures atau burung bangkai.
Pemakaman ini berpangkal pada logika karena adanya kesulitan untuk menggali kubur dan mencari kayu untuk mengkremasi mayat, hal ini seperti kita ketahui bahwa kondisi geografis  Tibet yang bergunung-gunung yang seringkali sangat terjal sangat menyulitkan pemakaman 'normal'  dan karena alasan inilah, dari sekian aliran agama di Tibet, ada sebuah kelompok aliran tertentu di Tibet yang lebih senang mengubur mayat dengan metode sky burial.  yang intinya adalah memberikan jasad almarhum kepada burung pemakan bangkai. Dipercaya bahwa sky burial akan lebih mempercepat roh si mati untuk naik ke nirvana .  Perjalanan akan jauh lebih cepat dengan bantuan burung vultures. Yang dalam bahasa Tibet disebut Dakinis  atau terjemahannya adalah "sky dancer' yang berarti  "angel".

Ritual penguburan ini, dinilai  sangat barbar dan keji, dan juga dianggap tidak menghormati mayat yang bersangkutan dan oleh karenanya, upacara sky burial ini pernah dilarang oleh pemerintah China  ketika China  komunis masih berkuasa di Tibet pada tahun 1960-1970, namun pada tahun 1980 an pemerintah Tibet mengijinkan kembali acara ini untuk tetap berlangsung, karena bagaimanpun juga model ritual ini selain masih dilakukan oleh sebagian masyarakat,  walau sudah dilarang,.
Sky burial juga merupakan ritual agama yang mempunyai arti sangat penting bagi kelompok yang menyakininya dan merupakan warisan budaya Tibet juga . Bahkan di tahun-tahun belakangan juga menarik para jurnalis dunia untuk menggali berbagai informasi tentang Sky burial dan juga tentu menarik para turis, walau upacara sky burial ini lebih sering dilakukan sangat tertutup dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menyaksikan jalannya upacara yang mendirikan bulu roma ini.
Pertama-tama jika ada anggota keluarga yang meninggal, maka mayat si orang tersebut akan didiamkan selama 3 hari sampai 7 hari tanpa disentuh. Kemudian setelah anggota keluarga setuju mengenai jenis pemakaman apa yang hendak dilakukan, barulah mereka menyiapkan ubo rampenya. Pada umumnya mereka memilih metode sky burial. Ya, karena dengan kepercayaan kuat bahwa burung vulture akan mempercepat proses si arwah untuk naik ke sorga.  Dengan kata lain : thanks to the vultures. Sky burial faktanya memerlukan dana cukup besar,  walau masih dibilang jauh lebih murah jika dibanding dengan upacara kremasi.

Ketika kematian menimpa sebuah keluarga, maka pihak keluarga akan segera mengundang pendeta yang akan mengepalai upacara dan  selanjutnya sang pimpinan pendeta akan menunjuk juga pendeta-pendeta lain yang tugasnya membakar hio dan chanting doa, mendoakan arwah yang meninggal dan juga sang pemimpin menunjuk seorang yang disebut "flesh breaker"  sang jagal mayat  yang tugasnya sangat vital dalam upacara ritual.  Seorang flesh breaker kehadirannya adalah mutlak karena tugas inti dari ritual pemakaman ini ada di pundaknya. Lebih sering flesh breaker lebih dari satu.
Setelah si mayat dimandikan dan dibersihkan, tubuh si mayat dibungkus dengan kain putih dan di arak ke tempat upacara  dengan cara ditandu atau hanya digendong di pundak. Dalam beberapa video yang aku saksikan upacara sky burial sering dilakukan secara kolektif juga,  Biasanya di sebuah kuil, dimana upacara pre-penguburan, mayat lebih dari satu. Kadang-kadang dalam suatu upacara bisa terdiri dari lima mayat sekaligus. Mereka berasal dari berbagai daerah yang berbeda. Satu-satu mayat datang dengan dipanggul dan dalam keadaan ditekuk seperti duduk.  Dan kemudian mayat diletakkan di salah satu hall di kuil tempat diadakan ritual dan didoakan sebelum diangkut ke lokasi pemakaman. Tempatnya biasanya berlokasi di puncak gunung, dan yang dianggap punya makna khusus. Dengan diiringi kepulan asap hio yang tiada henti mengepul, serta doa-doa pendeta  yang penuh khidmad mereka menuju tempat penguburan.

Ritual upacara ini sangat tertutup bagi masyarakat umum dan biasanya juga tidak banyak yang menyaksikan. Walau disarankan anggota keluarga turut menyaksikan sky burial untuk menyaksikan "kenaikan" arwah orang tercinta dalam memulai perjalanannya menuju ke nirvana. Kelompok  penganut agama ini percaya bahwa tubuh manusia yang sudah meninggal adalah hanya sebagai " vessel atau wadag" saja, artinya sudah tidak ada maknanya, dan sesuai dengan ajaran agama mereka yang berdasar "memberi" maka dengan dipersempahkan wadag ini kepada burung, akan membantu makhluk lemah yang perlu survive untuk hidup,  dalam hal ini  memberi makan vultures dengan potongan daging berasal dari jazad yang meninggal juga merupakan simbol suci agama tersebut. (dakinis)

Setelah iring-iringan pengangkut mayat tiba di tempat upacara, mayat dibaringkan dalam posisi fetal (seperti ketika bayi dilahirkan) di atas sebuah altar yang berbetuk batu besar dengan permuakaan datar yang berada di tengah-tengajh lokasi. Setelah itu,  dibuka kain pembungkusnya dan mayat dalam keadaan telanjang, yang tak jarang juga sudah berbau busuk dan bengkak-bengkak kemudian sang pendenta melakukan doa-doa dan tugas si flesh breaker ini dimulai. Dia akan segera memotong-motong tubuh si mayat dan memisahkan antara daging dan tulang, dan hanya meninggalkan kepala dan rambut. Biasanya mereka menyimpan rambut untuk dibawa pulang atau ada yang disimpan di  kuil-kuil, walau tak jarang mereka juga memecah kepala mayat dan mengambil tengkoraknya dan dibawa pulang untuk dijadikan sebuah cangkir untuk minum teh talking about a cup of butter tea......But of course, cangkir inipun lebih bermakna simbolis saja.

Memang nampaknya metode penguburan sky burial ini sangat kejam dan brutal sekali, tetapi itulah kenyataan yang ada di dunia ini, aneh tetapi nyata. Berbagai macam adat istiadat yang mungkin bagi sebagian orang sangat kejam tetapi bagi orang lain merupakan sebuah "deed". Lain ladang lain belalang. Simple as that.

Sumber :
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/1256/ritual_penguburan_mayat_paling_sadis

1 komentar:

Dedi mengatakan...

Videondan foto tntang sky burial disebarkan di fb dg ulasan kekejaman sekelompok manusia, shingga menyebabkan kekawatiran juga saling menghujat. Dan bnyk juga org kita yg mudah termakan gambar beserta ulasan yg dbikin oleh org tk bertanggung jawab.stelah membaca ini, akan saya katakan bahwa itu adalah sky burial di tibet.

 
Copyright © Eva's Blog